Pengembangan Ekonomi Syari’ah Hadapi Tiga Tantangan

Di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN Ada tiga tantangan mendasar yang dihadapi oleh para pihak dalam pengembangan ekonomi syari’ah, khususnya dalam menghadapi kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku sejak akhir tahun 2015.

Prof. Dr. Muhamad, M.AG (Ma Xing Ping) mengutarakan hal itu di depan tak kurang dari 700 mahasiswa dalam kuliah tamu Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (FE UMK) di Auditorium Kampus, Sabtu (12/3/2016).

‘’Tiga tantangan yang dihadapi dalam pengembangan ekonomi syari’ah yaitu pangsa pasar yang masih kecil, produk yang dinilai masih sama dengan sistem keuangan konvensional, dan krisis SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas,’’ tegas Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini.

Dia menjelaskan, market share perbankan syariah Indonesia yang masih kecil, akan menjadi penghambat dalam menghadapi MEA 2015. Perbankan syariah per Maret 2015 mencapai pertumbuhan sebesar 37,8 % dengan total aset mencapai Rp 214,5 triliun. Namun, market share industri perbankan syariah baru menembus 4,9 persen dari total aset industri perbankan hingga 2015,’’ katanya.

Lebih lanjut di dosen Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta, ini menyebutkan, pangsa pasar perbankan syariah masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan pangsa pasar industri perbankan konvensional yang sudah mencapai 95,1 persen.

‘’Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam upaya meningkatkan market share perbankan syariah, adalah dengan memperkuat permodalan dan melakukan konversi Bank Umum Milik Negara (BUMN) menjadi bank syariah. Terobosan ini diyakini akan mendorong pangsa pasar perbankan syariah menjadi lebih besar,’’ paparnya dalam kuliah tamu yang dipandu Dr. Moh Edris MM.

Namun ini juga masih akan menghadapi kendala, lantara stigma negatif di kalangan masyarakat, keberadaan industri keuangan syariah dilihat tak lebih sistem keuangan konvensional yang dibungkus dengan kata syariah semata. ‘’Pesimisme publik  masih muncul, karena produk yang ditawarkan kurang inovatif dan terbatas,’’ ungkapnya.

Untuk itu, menurutnya, berbagai peluang dan tantangan dalam pengembangan keuangan syariah di era pasar bebas Asean 2015 harus menjadi perhatian bersama. ‘’Pemerintah, akademisi, praktisi, ulama’ dan masyarakat perlu bersatu dan bergandengan tangan memperbaiki berbagai kendala yang dihadapi keuangan syariah. Jika ini bisa dilakukan, Indonesia tidak perlu pesimistis hadapi MEA,’’ tandasnya.

(sumber : www.umk.ac.id)

 

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Kotak Saran dan Masukan

Silahkan kirim Saran / Pertanyaan seputar Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus melalui link dibawah ini

saran untuk prodi akuntansi silahkan dikirm melalui email ke kotaksaran.prodiakuntansi.umk@gmail.com

Go to top